Gutta Percha Pohon Sejarah di Sukabumi yang Dulu Jadi Primadona Pada Tahun 1859

Perkebunan Cipetir, Sukabumi, Tempat Populasi Kelelawar Vampir - DeskJabar  - Halaman 4

Buzzbinpadilacrt.com – Desa Cipetir, Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat pernah menjadi sorotan dunia pada tahun 1800-an. Hal ini lantaran desa tersebut memiliki komoditas yang diketahui cukup berpengaruh di dunia bernama pohon Gutta Percha.

Pohon tersebut menghasilkan produk dari getahnya yang disebut sebagai salah satu bahan paling banyak digunakan, di masa revolusi industri hingga perang dunia saat itu.

Mengutip dari ANTARA pada Rabu (15/9), daun Gutta Percha disebut memiliki harga yang fantastis, hingga Rp3,5 juta jika dijual untuk keperluan industri.

Di masa lalu, tanaman bernama latin Palquium Gutta tersebut sempat dibudidayakan di masa kolonial Belanda sekitar tahun 1885 di Perkebunan Tjipetir. Saat ini sisa pohonnya masih tumbuh phony di lahan seluas 333 hektare yang dirawat oleh Perkebunan Sukamaju milik PTPN VIII. Berikut kisah menariknya.

Digunakan untuk Kebutuhan Medis Dunia

Dalam artikel “The Gutta Percha Business” yang ditulis Costs Burns di laman atlantic-cable. com/, tahun 1843 merupakan titik awal naik pamornya pohon Gutta Percha.

Saat itu seorang ahli bedah asal Britania Raya menemukan fakta bahwa senyawa getahnya mengandung unsur termoplastik alami yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan termasuk medis dan perabot rumah tangga (botol, ash, teko serta pernah pernik hiasan).

Untuk industri medis, getah dan daun Gutta Percha banyak digunakan sebagai gips untuk patah tulang hingga bahan gigi palsu untuk dunia kedokteran gigi.

Diekspor hingga 16 Juta Kg ke Inggris

Salah satu yang menggemparkan dunia adalah pengiriman besar-besaran getah Gutta Percha ke daratan Inggris untuk kebutuhan industri pelapis kabel telegraf.

Bahkan disebutkan di jurnal berjudul “A Victorian Ecological Catastrophe: Imperialism, the Telegraph, and also Gutta Percha” karya John Tully dari College of Hawaii Press, pemerintah kolonial Belanda sempat mengirim ke Inggris hingga 16 juta kg untuk melapisi kabel yang membelah samudera dan menghubungkan hampir seluruh benua di dunia dengan teknologi telegraf pada akhir abad 19.

Tak sampai di situ, pada abad ke-20, pengirimannya kembali dinaikkan hingga total 88 juta kg Gutta Percha untuk kebutuhan tambahan kabel komunikasi sepanjang 200 ribu mil pada saat itu.

Bertekstur Unik

Sebagai bahan dengan fungsi yang cukup beragam, Gutta Percha memiliki tekstur yang unik. Biasanya saat jadi dari pabrik teksturnya akan menjadi elastis layaknya karet, dan saat sudah dingin akan makin mengeras.

Dari situ permintaannya word play here terus meningkat hingga Pemerintah Kolonial Belanda membuat membangun pabrik pengolahannya di Sukabumi Jawa Barat pada tahun 1885

Sebelumnya pohon Gutta Percha juga ditanam pemerintah kolonial di sejumlah pulau di Indonesia, daratan Malaysia hingga Singapura.

Namun eksistensinya perlahan kian pudar setelah dunia mulai menemukan alternatif bahan lain yang lebih murah yakni getah karet di awal tahun 1900 an, dan pabrik Gutta Percha Tjipetir pun berhenti beroprasi di tahun 1921.

Dikirim ke Korea dan Jepang

Saat ini pabrik Gutta Percha di Desa Cipetir masih beroperasi dengan merek dagang Tjipetir. Biasanya kegiatan produksi hanya dilakukan beberapa kali dalam setahun, mengingat kian menurunnya permintaan.

Ditemui di lapangan, Mandor Besar atau Pengawas Pengelolaan Pabrik Gutta Percha Cipetir Budi Prayudi mengatakan, saat ini pabriknya hanya melayani permintaan selama dua kali dalam satu tahun dengan overall ekspor mencapai 200 kilogram.

“Jepang, Korea, dan Jerman biasanya memesan 200 kg Gutta Percha satu atau dua tahun sekali. Digunakan untuk keperluan medis,” terang Budi.

Budi mengatakan, saat produksi pabrik tersebut masih menggunakan sistem seperti di masa lalu. Daun Gutta Percha mulanya digiling menggunakan batu bundar besar yang disebut didatangkan langsung dari Italia.

Saat ini terdapat lima batu penggiling di pabrik Cipetir, namun yang masih difungsikan hanya satu atau dua saja.

Dari 1 lot daun Gutta Percha dapat menghasilkan 13 kg produk jadi. Setelah penggilingan, daun Gutta Percha yang sudah halus kemudian direbus dan diekstraksi sehingga menjadi getah.

Getah tersebut kemudian dipanaskan dengan suhu tinggi sehingga membentuk cairan kental. Cairan getah tersebut kemudian dapat dibentuk apapun selama masih panas. Ketika dingin, getah karet panas tersebut akan mengeras seperti plastik kokoh yang bisa dibuat menjadi berbagai macam bentuk.

Terus Lestarikan Sejarah

Sementara itu, Asisten Kepala Wakil Manajer PTPN VIII Unit Perkebunan Sukamaju Dadan Ramdan mengatakan jika saat ini Gutta Percha hanya digunakan di bidang medis seperti gips, gigi palsu, penambal gigi dan lain-lain.

Pihak medis masih menggunakan Gutta Percha lantaran sifatnya yang berbahan alami, sehingga lebih aman.

Untuk saat ini, pihaknya juga terus menjaga kelestarian pohon Gutta Percha dengan melestarikannya di lahan konservasi yang sudah disediakan.

“Dari 21.252 hektare lahan yang dimiliki PT PN VIII, 333 hektare lahan di antaranya sengaja kami tanami Pohon Gutta Percha. Selain untuk menjaga ekosistem alam, ini juga sebagai upaya kami melestarikan sejarah,” kata Dadan.

Mengetahui Misteri Al-Naslaa, Sebuah Batu Terbelah Dengan Sempurna di Saudi Arabia

Mengetahui Misteri Al-Naslaa, Sebuah Batu Terbelah Dengan Sempurna di Saudi Arabia

buzzbinpadillacrt.com – Batu di Padang Pasir Tayma, yang lokasinya berada di barat laut Arab Saudi atau di pertengahan Madinah dan Dumah, masih diselimuti misteri yang belum terpecahkan hingga sekarang.

Batu raksasa tersebut sering disebut Al Naslaa, pernah dengar? Yang membuatnya sangat unik yaitu batu raksasa ini terlihat seperti terbelah dua dengan rapi. Jika diperhatikan, belahan batu ini seperti yang ditebas pedang.

Batu ini terdiri dari dua bagian dalam satu formasi. Keduanya nampak memiliki penyangga berupa batu kecil di bagian bawahnya.

Formasi batu Al Naslaa ini sukses membuat para arkeolog geleng-geleng kepala. Sampai sekarang belum ada teori yang mampu menjelaskan kenapa Al Naslaa bisa memiliki belahan yang sempurna seperti itu.

Ada yang beranggapan bahwa salah satu sisi batu ini mengikuti pergeseran tanah dan kemudian tertarik dan terbelah. Ada juga yang menyebutkan kalau batu ini awalnya memang sudah memiliki retakan dan retakan itu terkikis hingga akhirnya terbelah.

Namun tetap saja, teori tersebut tidak bisa sepenuhnya menjelaskan misteri batu Al Naslaa Jika memang benar terbelah karena retakan atau pergeseran tanah, pasti belahannya tidak akan terlihat sempurna. Sedangkan belahan Al Naslaa begitu sempurna dan rapih.

Lukisan Misterius Dipermukaan Batu Al Naslaa

Selain itu, batu ini juga memiliki misteri lain. Di bagian permukaan batu ini terdapat sebuah lukisan kuno yang juga mengundang tanda tanya besar.

Coba perhatikan Al Naslaa di bagian bawah, jika teliti, di sana terdapat lukisan kuda dan manusia di dekat celah batu. Tidak ada yang tahu apa maksud dari lukisan ini.

Sampai saat ini belum ada ilmuwan yang bisa menjelaskan dengan pastinya misteri terbelahnya batu Al-Naslaa, Dan maksud dari gambar lukisan tersebut.

Apakah anda mengerti arti dari lukisan tersebut? Jika anda mempunyai pendapat bisa tulis di kolom komentar di kolom komentar ya. terima kasih sudah membaca artikel kami dan semoga bermanfaat untuk kalian semua.

Bendungan Tiga Ngarai di China, Konon Bisa Memperlambat Rotasi Bumi?

Mengetahui Bendungan Tiga Ngarai di China, Konon Bisa Memperlambat Rotasi Bumi?

buzzbinpadillacrt.com – Waduk yang terhubung dengan Bendungan Tiga Ngarai di China dirumorkan mampu menahan volume air cukup banyak sehingga berpengaruh dalam memperlambat dan mengubah rotasi Bumi. Rumor tersebut telah beredar selama lebih dari satu dekade, dan setelah diteliti oleh para ahli report bendungan raksasa tersebut dapat memperlambat rotasi Bumi ternyata benar adanya.

Service Expert pada bulan Juni 2010 memeriksa rumor tersebut dan telah diulangi selama bertahun-tahun dalam variasi unggahan media sosial dan sejumlah publikasi yang membuat klaim serupa. “Secara umum, klaim tersebut menegaskan bahwa setelah waduk bendungan terisi, berat massanya akan cukup untuk sedikit merubah rotasi bumi,” tulis Service Expert, dikutip Pikiranrakyat-Bekasi. com dari Snopes pada Senin, 31 Mei 2021.

Quantity air yang ditampung dalam waduk tersebut diketahui akan memiliki berat lebih dari 39 triliun kg. Pergeseran massa sebesar itu akan berdampak pada berubahnya rotasi bumi karena fenomena yang dikenal sebagai momen inersia. Momen inersia adalah ukuran kelembaman suatu benda untuk berotasi terhadap porosnya, besaran ini adalah analog rotasi daripada massa.

Momen inersia suatu benda pada sumbu tertentu menggambarkan betapa sulitnya mengubah gerakan sudutnya terhadap sumbu tersebut. Semakin jauh jarak suatu massa ke poros rotasinya, maka ia akan berputar semakin lambat kedepannya.

Mengangkat 39 triliun kilo air di ketinggian 175 meter di atas permukaan laut akan meningkatkan momen inersia bumi, dan dengan demikian memperlambat rotasi Bumi. Namun, menurut para ahli dampak yang ditimbulkan oleh fenomena tersebut akan terasa sangat kecil bagi kehidupan.

Ilmuwan NASA menghitung pergeseran massa semacam itu akan menambah panjang hari hanya 0.06 mikrodetik dan membuat Bumi hanya sedikit lebih bulat di tengah dan lebih datar di atas serta dapat menggeser posisi tiang akan bergeser sekitar dua sentimeter.

“Jika diisi, waduk itu akan menampung 40 kilometer kubik quantity air dan akan berpengaruh pada bertambahnya waktu selama beberapa mikrodetik dalam sehari dan sedikit menggeser posisi kutub,”katanya.

Perhatikan bahwa pergeseran massa benda di Bumi relatif terhadap sumbu rotasinya akan mengubah momen inersia, meskipun sebagian besar pergeseran terlalu kecil untuk diukur (tetapi dapat dihitung).

Bendungan Tiga Ngarai yang terletak di Yichang, Provinsi Hubei, China merupakan bendungan pembangkit listrik terbesar di dunia yang dibangun pada 1994 dan selesai pada 2009. Bendungan tersebut membendung aliran Sungai Yangtze dan mencakup tiga jurang sehingga dinamai demikian.

Seperti bendungan lain yang sedang dibangun, bendungan ini juga merupakan bendungan yang kontroversial menyangkut benar salahnya proyek ini. Pihak yang mendukung menunjuk kepada keuntungan ekonomi dari pengawasan banjir dan tenaga hidroelektrik.

Sementara pihak penentang mengkhawatirkan masa depan 1.9 juta orang yang akan dipindahkan akan kehilangan lokasi arkeologikal dan budaya yang berharga serta mengkhawatirkan juga dampaknya terhadap lingkungan.